22 Tahun BMT NU, Kiprah H. Masyudi Terus Mengakar di Jawa Timur

Surabaya – Lebih dari dua dekade perjalanan KSPP. Syariah BMT Nuansa Umat Jawa Timur (BMT NU Jatim) tidak hanya mencatat pertumbuhan lembaga, tetapi juga menunjukkan konsistensi sosok di balik perjuangan tersebut. Di usia BMT NU yang ke-22 tahun, Direktur Utama BMT NU Jatim, H. Masyudi Kanzillah, S. Ag, masih terus menunjukkan kiprahnya dalam mendorong perkembangan ekonomi syariah di Jawa Timur.
Kiprah tersebut kembali terlihat ketika H. Masyudi hadir sebagai narasumber dalam Talkshow Penguatan Literasi Keuangan Syariah pada rangkaian Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 di Grand City Surabaya, Minggu (27/9/2026).
Di hadapan peserta, H. Masyudi tidak hanya berbicara mengenai teori ekonomi syariah. Beliau membawa pengalaman panjang BMT NU Jatim dalam melayani masyarakat, terutama masyarakat pedesaan yang membutuhkan akses keuangan yang mudah, dekat dan sesuai prinsip syariah.
Bagi H. Masyudi, perjalanan BMT NU Jatim selama 22 tahun merupakan proses panjang membangun kepercayaan. Lembaga yang lahir dari keresahan terhadap praktik rentenir tersebut kini telah berkembang menjadi salah satu bagian dari ekosistem ekonomi syariah di Jawa Timur.
“Waktu itu kami berangkat dari semangat memberikan solusi kepada masyarakat yang ingin keluar dari jeratan rentenir. Kami hadir dengan modal yang sangat kecil dan melayani masyarakat secara langsung di lapangan,” ujar H. Masyudi.
BMT NU resmi berdiri pada 1 Juli 2004 dengan modal awal hanya Rp. 400.000 dan dikelola oleh dua orang. Pada masa awal, BMT NU bahkan belum memiliki kantor tetap.
Para pengelola memilih turun langsung ke tengah masyarakat. Pasar tradisional, kawasan pertanian hingga tempat usaha menjadi ruang pelayanan sekaligus tempat membangun kepercayaan anggota.
Perjalanan tersebut terus berkembang hingga lebih dari dua dekade kemudian. Hingga September 2026, BMT NU Jatim telah memiliki 120 kantor cabang di 12 kabupaten, dengan aset sekitar Rp. 1,56 triliun, melayani sekitar 246 ribu anggota, serta didukung 1.004 pengelola.
Pertumbuhan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang turut menunjukkan konsistensi kepemimpinan H. Masyudi dalam membawa BMT NU tetap dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Di tengah perkembangan lembaga, H. Masyudi tetap menekankan pentingnya karakter pelayanan yang dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, lembaga keuangan syariah tidak boleh hanya hadir bagi masyarakat yang memiliki modal besar. Justru, masyarakat kecil harus mendapatkan ruang yang sama untuk memperoleh layanan keuangan.
Hal itu salah satunya diwujudkan melalui layanan tabungan dengan setoran mulai dari Rp. 500 serta layanan jemput tabungan yang memungkinkan pengelola mendatangi anggota secara langsung.
“Kalau masyarakat desa hanya memiliki uang Rp. 500 untuk ditabung, kami tetap menerima. Yang kami bangun terlebih dahulu adalah kepercayaan masyarakat,” tuturnya.
Konsep tersebut menjadi salah satu ciri pelayanan BMT NU Jatim. Pengelola tidak hanya menunggu anggota datang ke kantor, tetapi mendatangi pasar, warung, sawah hingga tempat usaha anggota.
Dalam forum ekonomi syariah tersebut, H. Masyudi juga menyoroti pentingnya penerapan prinsip syariah secara substansial.
Menurutnya, lembaga keuangan syariah tidak cukup hanya mengubah istilah dalam produk keuangan. Setiap akad harus benar-benar dijalankan sesuai ketentuan syariah.
“Yang terpenting tetap memastikan seluruh akad berjalan sesuai substansi syariah. Di situlah kepercayaan masyarakat dibangun,” tegasnya.
Bagi BMT NU, kepercayaan menjadi modal penting yang harus terus dijaga. Karena itu, kepatuhan syariah, transparansi dan tata kelola menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan lembaga.
Memasuki usia ke-22 tahun, taring BMT NU terus terjaga. BMT NU Jatim menunjukkan bahwa perjalanan lembaga tidak berhenti pada pertumbuhan jumlah kantor maupun aset. Tantangan berikutnya adalah bagaimana tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat di tengah perubahan zaman.
Sosok H. Masyudi menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Dari lembaga yang bermula dengan modal ratusan ribu rupiah, BMT NU kini telah memiliki jaringan luas dan melayani ratusan ribu anggota.
Di usianya yang telah mencapai 22 tahun, BMT NU Jatim masih terus bergerak. Dari penguatan layanan masyarakat, pengembangan ekonomi anggota, hingga keterlibatan dalam forum-forum ekonomi syariah di tingkat Jawa Timur.

Kehadiran H. Masyudi dalam FESyar Regional Jawa 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa pengalaman panjang di akar rumput terus dibawa ke ruang diskusi yang lebih luas.
BMT NU pun tidak hanya ingin dikenal sebagai lembaga keuangan syariah, tetapi sebagai lembaga yang tumbuh bersama masyarakat.
Dari Rp. 400.000 hingga menembus aset Rp. 1,56 triliun. Dari dua pengelola hingga lebih dari seribu pengelola. Dua puluh dua tahun berjalan, BMT NU Jatim masih menunjukkan taringnya di Jawa Timur—tetap tumbuh, tetap bergerak, dan tetap berupaya hadir untuk umat.